Minggu, 27 Juni 2010

SIKAT GIGI IDEAL BUAT ANAK

Kini banyak beredar aneka bentuk sikat gigi untuk anak-anak.

Sebenarnya, yang paling bagus yang mana, sih?

Sikat gigi, siapa yang tak kenal dengan benda ini. Setelah bangun tidur

dan sebelum pergi tidur, benda bergagang dan berbulu ini akan setia

"menyapu" kotoran yang menempel di gigi dan rongga mulut. Karena fungsinya

yang sangat penting inilah, kita semua membutuhkannya. Para produsen,

bahkan

berlomba-lomba menciptakan sikat gigi yang baik buat anak. Ada yang

menciptakan sikat dengan gagang melengkung, ada juga yang dengan bulu sikat

berbentuk zigzag, atau naik turun seperti gergaji. Kepala sikatnya pun

bermacam-macam, ada yang mengecil, membundar, dan ada yang datar. Bahkan

ada

juga yang kepala sikatnya memang berbentuk bulat agar bisa dioperasikan

dengan tenaga elektrik.



Semua bentuk inovasi dan modifikasi dalam sikat gigi ini, menurut drg.

Sriwahyuni, SKM, M.Kes., patut dihargai. Itu menandakan kepedulian

para produsen sikat gigi terhadap kualitas barang yang diproduksinya.

"Dengan produk yang menarik dan berkualitas, diharapkan masyarakat,

termasuk anak-anak, bisa terpacu untuk memelihara kesehatan gigi dan

gusinya."



Sikat gigi elektrik misalnya, yang kini sedang dipromosikan secara

luas, sebenarnya sudah diciptakan mulai tahun 70-an di Eropa dan Amerika.

Hanya saja saat itu promosi dan penggunaannya masih terbatas, karena

harganya yang mahal dan sejumlah kekurangan yang dimilikinya. Salah

satunya,

bulu sikatnya yang masih terasa kasar. Seiring dengan perkembangan

teknologi, kualitas sikat gigi ini pun semakin meningkat. Begitu juga

tingkat ekonomi masyarakat, tak heran bila kini sikat gigi tersebut banyak

"dilirik" konsumen.



MEMILIH SIKAT GIGI



Sikat gigi dikatakan ideal bila memenuhi beberapa syarat, yaitu:



* Ukuran sikat harus mampu menelusuri bagian-bagian dalam mulut sampai

gigi bagian belakang. Untuk anak, karena ukuran rongga mulutnya

sangatlah kecil, maka sebaiknya bentuk kepala sikatnya juga kecil dan

pipih,

sehingga bisa menjangkau lorong gigi anak yang sangat sempit.



Kemudian, bulu sikat hendaknya lembut, tapi kuat. Bila ada anggapan

bahwa bulu sikat yang kasar atau kaku dianggap lebih efektif membersihkan

kotoran dan plak ketimbang bulu sikat yang halus, itu tidak benar.



* Bulu sikat gigi yang kasar bisa menyebabkan kerusakan gusi, terutama

gusi yang berbatasan langsung dengan gigi atau yang lazim disebut

dengan leher gigi. "Leher gigi ini sangat sensitif terhadap gesekan-gesekan

mekanis. Jadi, jika gigi disikat terlalu kasar, bisa jadi leher gigi anak

cepat rusak. Dampaknya, bisa menyebabkan infeksi dan kelainan gusi." Gusi

yang rusak membuat umur gigi tidak berumur panjang. Gigi akan mudah goyang

dan akhirnya satu per-satu akan tanggal terkena infeksi. Gusi ibarat

pondasi

sebuah bangunan. Sementara gigi adalah bangunannya. Jadi, meski bangunan

tersebut dibuat dari bahan yang kuat dan berkualitas, tidak akan ada

artinya

jika pondasinya sendiri keropos.



Pondasi yang kuat juga akan sia-sia jika bangunan yang dibuat tidak

kokoh. Jadi, baik gigi maupun gusi harus sama-sama saling menguatkan.

"Itulah mengapa, penggunaan sikat gigi yang benar berkaitan dengan

pencegahan kerusakan gigi dalam jangka panjang."



Tidak hanya itu, email gigi yang terletak di leher gigi pun bakalan

ikut rusak. Penipisan email gigi ini akan menyebabkan gigi kerap mengalami

gangguan, seperti ngilu dan nyeri. Hal ini terjadi karena rusaknya email

turut merusak pelindung syaraf gigi. Jika tidak ditangani secara serius,

lambat laun gigi akan membusuk dan tanggal. Menurut staf pengajar di

Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti Jakarta ini, masalahnya

kebiasaan menggunakan sikat gigi berbulu kaku itu akan terbawa pula hingga

anak dewasa.

tekninya adalah sbb :

* Sikat gigi harus mampu memijat gusi. Gusi merupakan jaringan lunak

yang harus dijaga kekuatan dan kebersihannya. Itulah mengapa, kita

sebaiknya menjaga peredaran darah di gusi tetap lancar. Caranya, dengan

melakukan pemijatan di areal gusi lewat sikat berbulu lembut tadi. "Dengan

pemijatan teratur setiap hari, maka otot-otot dan peredaran darah di gusi

menjadi semakin lancar. Gusi pun menjadi kuat," tambah kandidat doktor di

Universitas Airlangga Surabaya ini.



* Sikat gigi standar yang banyak beredar di pasaran dengan bulu yang

rata, tangkai yang lurus, dan kepala yang lancip juga mampu berperan

optimal dalam membersihkan kotoran dan plak di dalam gigi. Bentuk seperti

ini juga mudah digunakan dan dikendalikan saat menyikat.



Yang terpenting, lanjut Widijanto, ukuran dan bulu sikat sesuai

standar. "Namun, bentuk kepala sikat, tangkai, maupun bulunya, tidak akan

berarti jika kita tidak tahu cara menggosok gigi yang baik dan benar."










KAPAN GANTI SIKAT GIGI

Sikat gigi harus diganti di antaranya bila bulu sikat rontok, rusak

atau melebar sehingga tidak nyaman atau tidak efektif lagi digunakan

sebagai sikat gigi. Jika pemakaiannya dilakukan dengan baik, tidak kasar,

maka umur sikat gigi biasanya bisa panjang. Tapi jika penggunaannya

sembarangan, umurnya pun biasanya relatif pendek.



Ada beberapa sikat gigi dengan merek tertentu menggunakan helm sebagai

pelindung kepala sikatnya. Hal ini jelas cukup berdampak positif,

karena dengan helm tersebut, kebersihan sikat gigi bisa lebih terjamin.



"Namun kalau tak pakai helm pun tak apa. Jika kita ragu pada kebersihan

sikat gigi, kita bisa mencucinya terlebih dahulu dengan menggunakan air

yang bersih."



Selain itu, usahakan agar setiap anak memiliki sikat gigi

masing-masing. Jangan pernah memakai sikat gigi orang lain. "Karena

pemakaian sikat bersama bisa menyebabkan penularan penyakit, seperti flu,

hepatitis, TBC."



KEUNGGULAN SIKAT GIGI ELEKTRIK



1. Gerakan sikat yang memutar



Gerakan sikat yang otomatis memutar efektif dalam membersihkan kotoran

dan plak pada gigi. Jika pengguna meletakkan sikat tersebut dengan

benar, tidak hanya gigi saja yang dibuat bersih, getaran-getaran

(vibration) yang diakibatkan oleh sikat juga membuat gusi ikut terpijat

olehnya.



2. Bentuk kepala sikat yang kecil



Bentuk kepala sikat seperti ini membuat kotoran yang berada di rongga

mulut yang sempit dan sulit dijangkau bisa dibersihkan.



3. Adanya semprotan air



Semprotan air ini juga sangat membantu untuk mengeluarkan

kotoran-kotoran yang tidak terjangkau oleh sikat gigi.



4. Tidak perlu tenaga banyak



Dengan bantuan tenaga baterai, sikat gigi ini jelas lebih nyaman

digunakan karena tidak memerlukan tenaga yang cukup banyak kala menyikat

gigi.



"Jadi, tidaklah salah jika mereka mengklaim bisa membersihkan kotoran

dan plak hingga 80%. Namun harganya juga tak murah," komentar Widijanto.



AJARKAN SIKAT GIGI SEJAK DINI



Yang jelas, seperti dikatakan Widijanto, anak harus dikenalkan pada

sikat gigi sejak gigi susunya mulai tumbuh. "Meski masa tumbuh gigi pada

setiap anak bervariasi, tapi biasanya saat usianya menginjak 2,5 atau 3

tahun, gigi susunya yang berjumlah 20 sudah tumbuh lengkap. Saat itulah

anak

sudah bisa diperkenalkan dengan sikat gigi mini yang lembut dan cocok

baginya."



Namun sebuah riset mengatakan, mengajarkan anak menggosok gigi sama

halnya dengan mengajarkan mandi. Sejak bayi dilahirkan, ia harus mandi

secara rutin dan teratur. Jadi, menggosok gigi juga harus sudah dimulai

saat bayi keluar dari rahim sang ibu. "Meskipun saat itu bayi belum

mengonsumsi makanan padat, tapi setelah menyusui, tetap saja gusinya harus

dibersihkan."



Memang, membersihkan gusi di usia bayi berbeda dengan orang dewasa.

Membersihkan gusi pada bayi cukup dengan kain kasa bersih yang sudah

dicelupkan ke air yang matang, lalu digosokkan pada gusi sang bayi. Akhiri

dengan proses pembilasan lewat pemberian air mineral pada sang bayi.



Jika tindakan tersebut dilakukan secara terus-menerus, maka tindakan

tersebut akan menetap dan menjadi kebiasaan. "Kebiasaan itulah yang

menyebabkan anak terkondisikan agar giginya senantiasa bersih. Yang

terpenting adalah instingnya yang kita asah. Dengan cara ini, secara

naluriah anak akan merasa tidak enak jika sesudah bangun pagi atau sebelum

tidur tidak menggosok gigi." Rutinitas ini juga akan membantu anak untuk

bisa menyikat gigi dengan baik dan benar, yaitu gigi bersih dan bebas dari

kotoran serta plak. Disamping itu, proses pembersihannya tidak merusak gusi

atau email gigi.



Kemampuan anak untuk menyikat dengan baik dan benar sangatlah relatif,

tergantung bagaimana peran orang tua ataupun guru dalam mengajarkannya.

"Jadi, orang dewasa pun harus tahu terlebih dahulu bagaimana menyikat

gigi yang baik dan benar tersebut."



Penting diperhatikan, hingga anak berusia lima tahun, orang tua harus

tetap mengawasi aktivitasnya saat menyikat gigi. Sebabnya, hingga usia

ini anak belum bisa melakukannya dengan baik dan benar. "Namun, bukan

berarti orang tua mesti membantu menggosok gigi anaknya terus-menerus.

Biarkan anak menggosok gigi sendiri sembari diawasi orang tua."



AGAR ANAK SUKA MENGGOSOK GIGI



Berikut tips dari kami agar anak suka menyikat gigi:



1. Libatkan anak saat membeli sikat dan pasta gigi kesukaannya.

Sesuaikan ukuran sikat dengan ukuran rongga mulut anak.



2. Carilah pasta gigi yang aman buat anak. Banyak pasta gigi dengan

rasa buah-buahan, yang mengandung bahan yang aman jika tertelan si kecil.



3. Agar anak bisa melihat dirinya saat menggosok gigi, pasang cermin di

kamar mandi.



4. Siapkan segelas air hangat untuk berkumur-kumur. Ada beberapa anak

yang cepat merasa ngilu dengan air dingin. Menurut Widijanto, sebenarnya

fenomena berkumur selepas sikat gigi masih menjadi kontroversi. Pihak yang

yang tidak setuju beralasan, jika setelah menyikat gigi cepat-cepat

berkumur

maka efektivitas fluor menjadi berkurang. Pasalnya, kandungan fluor yang

terdapat pada pasta gigi dan menempel pada gigi saat disikat, akan mudah

tersapu kembali oleh air saat berkumur. "Saya berpendapat, sebaiknya anak

hanya berkumur sekali saja, tidak usah berkali-kali agar fluor masih bisa

menempel di gigi."



Obat kumur sebenarnya hanya menjadi pelengkap setelah bersikat gigi

sebagai alternatif penyegar mulut. Jadi, membersihkan gigi tidak bisa

digantikan dengan obat kumur.



5. Sediakan handuk yang dapat digunakan untuk membersihkan bibir

setelah menyikat gigi.



6. Berikan pujian padanya setelah "menyelesaikan tugas tersebut". Hal

ini akan membuatnya ingin melakukan kegiatan sikat gigi.



CARA MEMBERSIHKAN GIGI YANG BENAR



Inilah langkah-langkah yang diberikan Widijanto:



1. Usahakan air yang digunakan untuk menggosok gigi benar-benar bersih.



2. Gerakan yang benar saat menggosok adalah dengan rumus FRTW (From Red

To White). Artinya, gerakan menyikat mulai dari gusi yang berwarna

merah ke gigi yang berwarna putih. Gerakan diusahakan bergerak ke satu

arah, dari atas ke bawah untuk gigi atas atau sebaliknya untuk gigi bagian

bawah. Gerakan dua arah menyebabkan kotoran yang tersapu akan balik

kembali.



3. Buatlah gerakan seolah-olah mengeluarkan kotoran dari sela-sela

gigi. Gosoklah semua permukaan gigi, mulai dari gigi bagian luar, tengah,

dan bagian dalam.



4. Jangan lupa, gosok pula gusi secara lembut dengan sikat.



5. Gunakan cermin sebagai alat bantu saat menggosok gigi. Jika hanya

mengandalkan perasaan dan kebiasaan saja, sulit untuk mencapai hasil yang

optimal.



6. Lidah tidak perlu dibersihkan oleh sikat. Lidah memiliki mekanisme

pembersihan tersendiri. Secara otomatis, jaringan-jaringan lunak yang

ada di lidah akan berganti setiap harinya. Ibarat kulit manusia yang

selalu mengalami pergantian dalam waktu tertentu.



Lidah juga bukan tempat bersarangnya plak atau kuman. Kecuali jika

lidah tersebut terluka, kuman dan bakteri bisa masuk ke dalamnya. "Jika pun

ada bintil-bintil putih di lidah, itu bukanlah kotoran, melainkan warna

lidah memang seperti itu."



DENTAL FLOSS (DF) TAK COCOK BUAT ANAK



Tidak semua bagian gigi bisa tersapu bersih oleh sikat gigi, karena itu

pemakaian DF juga amat penting untuk membersihkan daerah2 yang sulit

dijangkau oleh sikat gigi, terutama daerah-daerah antara gigi

(interdental) juga gigi-gigi yang berjejal.



DF merupakan benang gigi yang dirancang khusus. Dibuat dari serat nylon

yang dilapisi lilin sehingga kuat, elastis, dan tidak mudah rusak. Juga

tidak akan merusak gusi jika digunakan secara benar.



Nah, meski penting, Widijanto tidak menganjurkan penggunaan DF ini

untuk anak-anak. Bagaimanapun letak antar gigi anak masih jarang, sehingga

penggunaan DF tidak efektif. Dengan sikat gigi biasa pun gigi anak sudah

bisa dibersihkan. "Selain itu, pemakaian DF pun tidak bisa

sembarangan, karena jika sembrono gusi juga bisa rusak."



DF baru bisa dikenalkan pada anak-anak remaja atau praremaja, karena

selain susunan gigi mereka sudah rapat, mereka juga sudah bisa

menggunakan DF secara baik dan benar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar